SMK N 1 Koto Gasib, Pendidik Galau, Peserta Didik Tak Sejalan: Meninjau Kesenjangan Visi di Ruang Kelas
Pendidik Galau, Peserta Didik Tak Sejalan: Meninjau Kesenjangan Visi di Ruang Kelas
Lubuk Dalam.
Dunia pendidikan nasional kini menghadapi tantangan serius yang kerap menimbulkan "kegalauan" di kalangan para pendidik: adanya kesenjangan visi dan ketidakselarasan antara harapan guru dengan sikap serta tujuan peserta didik. Fenomena ini muncul ketika upaya keras para pengajar untuk mencapai target pendidikan—baik akademis maupun karakter—sering kali berbenturan dengan kurangnya antusiasme, motivasi, atau bahkan adanya perilaku yang tidak mendukung di sisi pelajar.
Para guru, yang memegang peran sentral dalam transformasi pengetahuan dan karakter, sering kali merasa frustrasi ketika kurikulum inovatif dan metode pengajaran yang dirancang matang tidak mendapat respons yang sejalan dari siswa. Sumber kegalauan ini beragam, mulai dari isu klasik seperti malas belajar, kurangnya minat terhadap materi, hingga munculnya perilaku negatif seperti minimnya sopan santun dan etika di sekolah.
Ketika Upaya Guru Bertepuk Sebelah Tangan
Laporan dan hasil wawancara dengan beberapa praktisi pendidikan menunjukkan bahwa banyak pendidik merasa bahwa perkembangan zaman, terutama pasca-pembelajaran daring, telah melunturkan beberapa nilai dasar. Salah satu guru menyebutkan adanya penurunan signifikan pada karakter sopan santun siswa, di mana mereka terkadang berbicara dengan nada tinggi atau kurangnya sikap ramah terhadap guru.
"Kami berusaha keras menjadi inspirator, fasilitator, bahkan manajer kelas yang kreatif," ujar seorang guru senior, "tetapi ketika niat baik kami untuk mendidik dan memotivasi seolah-olah tidak sampai, rasanya sangat melelahkan. Rasanya kami berjalan ke satu arah, sementara mereka (siswa) punya tujuan yang sangat berbeda di kepala mereka."
Kesenjangan ini diperparah oleh beberapa faktor:
Gangguan Eksternal: Pengaruh budaya luar yang cepat dan masif, serta gawai yang sering mengalihkan fokus belajar siswa.
Kurangnya Minat: Banyak siswa tidak memiliki minat yang tinggi terhadap mata pelajaran, yang membuat mereka sulit berkonsentrasi dan menyerap materi.
Keterbatasan Peran Guru: Dengan jumlah siswa yang banyak, guru kesulitan memberikan perhatian dan penilaian sikap secara individual, seperti mengamati kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab setiap siswa.
Mampukah Pendidik dan Peserta Didik Menjadi "Satu Tujuan"?
Jelas bahwa keberhasilan tujuan pendidikan sangat bergantung pada proses pembelajaran yang melibatkan dua perilaku aktif yang harus saling mendukung: pendidik dan peserta didik.
Beberapa ahli menyarankan bahwa para guru perlu lebih inovatif dalam menggunakan metode pembelajaran yang variatif, berpenampilan menarik, dan menciptakan lingkungan kelas yang mendorong kerja sama dan komunikasi, agar siswa merasa nyaman dan tertarik. Hukuman, bila diperlukan, harus bersifat pedagogis, bukan balas dendam, dan bertujuan untuk menyadarkan siswa akan kesalahannya.
Di sisi lain, perlu ada upaya kolektif, terutama melibatkan orang tua, untuk memastikan bahwa dukungan terhadap proses belajar juga berlanjut di rumah. Tanpa adanya kesadaran kolektif untuk menumbuhkan minat belajar dan karakter yang baik pada siswa, kegalauan pendidik akan terus berlanjut.
Pemerintah dan pihak sekolah didorong untuk menyediakan pelatihan yang mendukung pendidik menjadi lebih profesional dan peka terhadap perkembangan psikologis siswa, serta merevisi peraturan yang memastikan adab dan tata krama tetap menjadi pilar utama dalam kurikulum. Harapannya, dengan adanya kolaborasi dan penyelarasan yang lebih baik, tujuan pendidikan nasional—menciptakan manusia dewasa yang cakap, terampil, dan berakhlak mulia—dapat tercapai tanpa meninggalkan para pendidik dalam kebingungan.
Pertanyaannya kini: Strategi praktis apa yang paling efektif diterapkan oleh sekolah untuk menjembatani kesenjangan komunikasi dan motivasi antara guru dan siswa di era digital ini?